KONFLIK
Menurut Konflik (Sarlito W. Sarwono, 1999).adalah pertentangan antara dua pihak atau
lebih, yang dapat terjadi antarindividu, antarkelompok kecil, bahkan
antarbangsa dan negara.
Menurut (Wikipedia
2007) merupakan
bentuk pertentangan, ketidaksepakatan, ketidakcocokan antara dua orang atau
lebih, antar kelompok orang, yang biasanya ditadai oleh kekerasan fisik.
3 Aspek lain perlu
dipertimbangkan dalam membahas sebuah
konflik:
Awareness
aspect:
kapan seseorang menyadari telah terjadi konflik
Expression
aspect:
tampilan di depan publik bahwa telah terjadi konflik
Affect
aspect:
konflik seringkali diikuti oleh munculnya sejumlah emosi negatif spt marah, cemas panik.
KONFLIK
merupakan percampuran antara unsur :
OBJEKTIF
•
ketidaksesuaian / ketidakcocokan tindakan, tujuan berkaitan dengan
sumber-sumber yang terbatas seperti uang, air, dan sebagainya; universal atau
spesifik.
SUBJEKTIF
•
lebih merujuk pada
proses-proses psikologi sosial seperti persepsi, komunikasi, atribusi
•
konflik subjektif terjadi
terutama karena faktor ‘minds’ (persepsi dan kognisi)
•
konflik dpt terjadi walaupun
tidak ada ketidaksesuaian yang sifatnya substantif/ mendasar
Konflik terjadi melalui beberapa fase atau tahapan, diantaranya
adalah:
-Pra Konflik
-Konfrontasi
-Konflik
-Akibat
-Pasca Konflik
Teori –teori Latar Belakang
munculnya suatu Konflik adalah
Dilema sosial: Adanya sikap yang tidak mau
dirugikan dan keinginan untuk mempertahankan diri, dimana setiap individu
mempunyai latar belakang sendiri – sendiri (suku, ras, agama, golongan, jenis
kelamin), individu yang tergabung dalam suatu kelompok seringkali ‘ditebengi’
oleh kepentingan – kepentingan tertentu dan senantiasa mengupayakan tercapainya
tujuan dari kepentingan tersebut.
•
Kompetisi : kompetisi menyebabkan adanya permusuhan yang
kemudian bermuara pada adanya saling berprasangka satu dengan yang lain, serta
saling memberikan evaluasi yang negatif.
•
Ketidakadilan: Adanya ketidakseimbangan antara input dengan
output.
•
Kesalahan persepsi: Kesalahan persepsi seringkali muncul karena
cara pandang yang subyektif (tidak obyektif), jadi tidak mudah untuk
mengetahui mana yang benar. Ibarat sebuah bola, inti bola adalah kebenaran itu
sendiri, sedangkan lapisan yang menyelimuti inti adalah persepsi –persepsi yang
ditimbulkan oleh subyek. Jadi, dalam hal ini kebenaran akan selalu tertutup
dengan adanya ‘persepsi – persepsi yang belum tentu benar’. (mirror image perception)
THE REALISTIC CONFLICT THEORY
Konflik terjadi karena adanya
kompetisi dalam permainan, antarkelompok saling mengejek, berkelahi, adanya
upaya saling mengalahkan (win-lose), segala upaya damai dan komunikasi dihambat
(autistic hostility), serta muncullah distorsi persepsi.
THE CONTACT HYPOTHESIS TEORIES
Konflik terjadi karena kegagalan
mengenal pihak lain akibat ketidaktahuan atau tidak adanya informasi yang
memadai. Untuk itu diperlukan adanya kontak, sehingga dapat membuka kesempatan
untuk mendapatkan informasi yang memadai, mengklarifikasi kesalahan persepsi,
belajar kembali berdasarkan informasi yang baru, walaupun tidak semua kontak bisa
menyelesaikan konflik bahkan dapat mempertajam konflik.
STRATEGI MENGHADAPI
KONFLIK
Menurut Pruit dan
Robin (2004)
•
Contending : cara ini adalah cara pemecahan masalah secara WIN – LOSE SOLUTION,
yaitu dengan menyelesaikan masalah tanpa memperdulikan kepentingan pihak lain.
•
Problem Solving : yaitu menyelesaikan masalah dengan
memperdulikan kepentingannya sendiri
dan pihak lain. Individu akan
berinisiatif melakukan pemecahan masalah dengan negosiasi untuk
mengatasi konflik. Solusi diarahkan pada agar kedua pihak dapat sepenuhnya
mencapai tujuan dan mengatasi ketegangan dan perasaan negatif antara kedua
pihak. Motivasi yang berkembang adalah untuk berkolaborasi.
•
Yielding: yaitu dengan mengalah, menurunkan aspirasinya
dan bersedia menerima ‘kurang’ dari yang
sebenarnya diinginkan. Motivasi yang berkembang adalah keinginan untuk menyerah
•
Inaction : yaitu dengan diam, tidak
melakukan apapun. Masing-masing pihak saling menunggu tindakan pihak lain.
•
Withdrawing: yaitu
dengan menarik diri, memilih meninggalkan situasi konflik, baik secara fisik
maupun psikologis.
KONFLIK ORGANISASI
Munculnya sebuah konflik dalam organisasi tidak selalu
berdampak negatif. Sebuah konflik dapat memberikan sisi positif diantaranya
memajukan organisasi tersebut ke arah yang lebih baik.
Tingkat tingkat konflik, sebagai berikut:
-Konflik intra perorangan
-Konflik antar perorangan
-Konflik antar kelompok
-Konflik antar keorganisasian
Sebab dan penyebab
konflik dalam sebuah organisasi:
Persaingan
terhadap sumber-sumber daya yg langka
Ketergantungan
tugas (interdependence)
Kekaburan
batas-batas bidang kerja
Kriteria
kinerja yg tidak sesuai
Perbedaan-perbedaan
Tujuan & Prioritas
Tipe tipe konflik:
KONFLIK
VERTIKAL, konflik terjadi antara atasan & bawahan
KONFLIK
HORIZONTAL, terjadi antara sesama karyawan atau kelompok yg berada pd hierarkhi
yg sama
KONFLIK
GARIS STAFF, bila konflik terjadi antara staf pada bidang tertentu.
KONFLIK PERANAN, terjadi bila komunikasi antar anggota tidak kompetibel bagi pemegang
peranan.