Jumat, 22 Mei 2015

KOMUNIKASI



TUGAS ETIKA PROFESI

Nama        : Edy Susanto
Kelas         : Online


1.      Sebutkan tiga  pengertian komunikasi  yang anda ketahui !
  1. Sebutkan tujuan komunikasi !
  2. Jelaskan proses komunikasi !
  3. Jelaskan komunikasi non verbal yang mempengaruhi isi pesan yang disampaikan!
  4. Sebutkan faktor  penghambat dalam berkomunikasi.


Jawaban:
1. a. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
b. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
c. Komunikasi  adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).

2.  Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
     Mengungkapkan perasaan 
Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
Berhubungan dengan orang lain
Menyelesaian sebuah masalah
Mencapai sebuah tujuan

3. Pengirim pesan& isi pesan, simbol isyarat, media, mengartikan pesan, penerima pesan, feedback (jawaban).

4. Ekspresi wajah  
    Kontak mata
    Sentuhan
    Postur tubuh dan gaya berjalan.
    Sound (Suara)
    Gerak isyarat
5.
Hambatan dari Proses Komunikasi
Hambatan Fisik
Hambatan Semantik.
Hambatan Psikologis

KONFLIK



KONFLIK
Menurut Konflik (Sarlito W. Sarwono, 1999).adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih, yang dapat terjadi antarindividu, antarkelompok kecil, bahkan antarbangsa dan negara.
Menurut (Wikipedia 2007) merupakan bentuk pertentangan, ketidaksepakatan, ketidakcocokan antara dua orang atau lebih, antar kelompok orang, yang biasanya ditadai oleh kekerasan fisik.

3 Aspek lain perlu dipertimbangkan  dalam membahas sebuah konflik:
Awareness aspect: kapan seseorang menyadari telah terjadi konflik
Expression aspect: tampilan di depan publik bahwa telah terjadi konflik
Affect aspect: konflik seringkali diikuti oleh munculnya sejumlah emosi negatif spt  marah, cemas panik.

KONFLIK merupakan percampuran antara unsur :
OBJEKTIF
          ketidaksesuaian / ketidakcocokan tindakan, tujuan berkaitan dengan sumber-sumber yang terbatas seperti uang, air, dan sebagainya; universal atau spesifik.
SUBJEKTIF
           lebih merujuk pada proses-proses psikologi sosial seperti persepsi, komunikasi,  atribusi
           konflik subjektif terjadi terutama karena faktor ‘minds’ (persepsi dan kognisi)
           konflik dpt terjadi walaupun tidak ada ketidaksesuaian yang sifatnya substantif/ mendasar

Konflik terjadi melalui beberapa fase atau tahapan, diantaranya adalah:
-Pra Konflik
-Konfrontasi
-Konflik
-Akibat
-Pasca Konflik

Teori –teori Latar Belakang munculnya suatu Konflik adalah
Dilema sosial: Adanya sikap yang tidak mau dirugikan dan keinginan untuk mempertahankan diri, dimana setiap individu mempunyai latar belakang sendiri – sendiri (suku, ras, agama, golongan, jenis kelamin), individu yang tergabung dalam suatu kelompok seringkali ‘ditebengi’ oleh kepentingan – kepentingan tertentu dan senantiasa mengupayakan tercapainya tujuan dari kepentingan tersebut.
          Kompetisi : kompetisi menyebabkan adanya permusuhan yang kemudian bermuara pada adanya saling berprasangka satu dengan yang lain, serta saling memberikan evaluasi yang negatif. 
          Ketidakadilan: Adanya ketidakseimbangan antara input dengan output.
          Kesalahan persepsi: Kesalahan persepsi seringkali muncul karena cara pandang yang subyektif (tidak obyektif), jadi tidak mudah untuk mengetahui mana yang benar. Ibarat sebuah bola, inti bola adalah kebenaran itu sendiri, sedangkan lapisan yang menyelimuti inti adalah persepsi –persepsi yang ditimbulkan oleh subyek. Jadi, dalam hal ini kebenaran akan selalu tertutup dengan adanya ‘persepsi – persepsi yang belum tentu benar’. (mirror image perception)
THE REALISTIC CONFLICT THEORY
                Konflik terjadi karena adanya kompetisi dalam permainan, antarkelompok saling mengejek, berkelahi, adanya upaya saling mengalahkan (win-lose), segala upaya damai dan komunikasi dihambat (autistic hostility), serta muncullah distorsi persepsi.
THE CONTACT HYPOTHESIS TEORIES
                Konflik terjadi karena kegagalan mengenal pihak lain akibat ketidaktahuan atau tidak adanya informasi yang memadai. Untuk itu diperlukan adanya kontak, sehingga dapat membuka kesempatan untuk mendapatkan informasi yang memadai, mengklarifikasi kesalahan persepsi, belajar kembali berdasarkan informasi yang baru, walaupun tidak semua kontak bisa menyelesaikan konflik bahkan dapat mempertajam konflik.
STRATEGI MENGHADAPI KONFLIK
Menurut Pruit dan Robin (2004)
          Contending : cara ini adalah cara pemecahan masalah secara WIN – LOSE SOLUTION, yaitu dengan menyelesaikan masalah tanpa memperdulikan kepentingan pihak lain.
          Problem Solving : yaitu menyelesaikan masalah dengan memperdulikan      kepentingannya sendiri dan pihak lain. Individu akan  berinisiatif melakukan pemecahan masalah dengan negosiasi untuk mengatasi konflik. Solusi diarahkan pada agar kedua pihak dapat sepenuhnya mencapai tujuan dan mengatasi ketegangan dan perasaan negatif antara kedua pihak. Motivasi yang berkembang adalah untuk berkolaborasi.
          Yielding: yaitu dengan mengalah, menurunkan aspirasinya  dan bersedia menerima ‘kurang’ dari yang sebenarnya diinginkan. Motivasi yang berkembang adalah keinginan untuk menyerah
          Inaction :  yaitu dengan diam, tidak melakukan apapun. Masing-masing pihak saling menunggu tindakan pihak lain.
          Withdrawing:  yaitu dengan menarik diri, memilih meninggalkan situasi konflik, baik secara fisik maupun psikologis.

KONFLIK ORGANISASI
Munculnya sebuah konflik dalam organisasi tidak selalu berdampak negatif. Sebuah konflik dapat memberikan sisi positif diantaranya memajukan organisasi tersebut ke arah yang lebih baik.
Tingkat tingkat konflik, sebagai berikut:
-Konflik intra perorangan
-Konflik antar perorangan
-Konflik antar kelompok
-Konflik antar keorganisasian

Sebab dan penyebab konflik dalam sebuah organisasi:
Persaingan terhadap sumber-sumber daya yg langka
Ketergantungan tugas (interdependence)
Kekaburan batas-batas bidang kerja
Kriteria kinerja yg tidak sesuai
Perbedaan-perbedaan Tujuan & Prioritas

Tipe tipe konflik:
KONFLIK VERTIKAL, konflik terjadi antara atasan & bawahan
KONFLIK HORIZONTAL, terjadi antara sesama karyawan atau kelompok yg berada pd hierarkhi yg sama
KONFLIK GARIS STAFF, bila konflik terjadi antara staf pada bidang tertentu.
KONFLIK  PERANAN, terjadi bila komunikasi  antar anggota tidak kompetibel bagi pemegang peranan.

Kekuasaan dan Politik (Kecakapan Antar Personal)



Kekuasaan adalah kemampuan memanipulasi atau mengubah orang lain. Kekuasaan tidak memiliki legitimasi.
Otoritas adalah kemampuan memanipulasi atau mengubah orang lain. Otoritas memiliki legitimasi.
Kekuasaan terbagi menjadi 2, diantaranya adalah kekuasaan formal/kekuasaan power  dan kekuasaan pribadi.
Secara detail kekuasaan formal/kekuasaan power mencakup:
-Kekuasaan Koersif
-Kekuasaan Imbalan
-Kekuasaan Legitimasi
Secara detail kekuasaan pribadi mencakup:
-Kekuasaan Keahlian
-Kekuasaan Rujukan



DASAR DASAR KEKUASAAN



Kekuasaan Paksaan
Kekuasaan Imbalan
Kekuasaan Sah
Kekuasaan Pakar
Kekuasaan Rujukan

TAKTIK TAKTIK KEKUASAAN
Nalar
Keramahan
Koalisi
Tawar Menawar
Ketegasan
Otoritas Lebih Tinggi
Sanksi

Perilaku Politik adalah Kegiatan yang tidak diminta sebagai bagian dari peran formal seseorang dalam organisasi tetapi yang mempengaruhi atau mencoba mempengaruhi distribusi keuntungan & kerugian di dalam organisasi.
Faktor Individu pendorong Perilaku Positif.
Pemantauan diri yang tinggi
Memiliki kendali internal
Memiliki kebutuhan yang tinggi akan  kekuasaan
Investasi organisasional
Alternatif pekerjaan yang dipahami
Harapan sukses


9 TAKTIK KEKUASAAN (Robbins and Judge(2008, 2:139)
  1. Legitimasi, mengandalkan posisi kewenangan seseorang atau menekankan bahwa sebuah permintaan selaras dengan kebijakan /ketentuan organisasi
  2. Penalaran atau persuasi rasional,  menyajikan  fakta dan argumen yang logis untuk memperlihatkan bahwa sebuah permintaan itu masuk akal.
  3. Seruan inspirasional mengembangkan komitmen emosional dengan cara menyerukan nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan aspirasi sebuah sasaran.
  4. Konsultasi, meningkatkan motivasi dan dukungan dari pihak yang menjadi sasaran (target) dengan cara melibatkan dalam memutuskan bagaimana rencana atau perubahan akan dijalankan.
5.   Tukar pendapat, memberikan imbalan kepada target atau sasaran berupa uang atau penghargaan lain sebagai ganti karena mau menaati suatu permintaan.
       6.   Seruan pribadi, meminta kepatuhan berdasarkan persahabatan atau kesetiaan
       7.   Menyenangkan orang lain, menggunakan rayuan, pujian atau perilaku bersahabat sebelum   membuat permintaan.
       8.   Tekanan, menggunakan peringatan tuntutan tegas, dan ancaman
        9.   Koalisi, meminta bantuan orang lain untuk membujuk target  atau menggunakan dukungan orang lain sebagai alasan agar si target setuju. 

POLITIK
Politik adalah kekuasaan dalam tindakan. Jadi politik adalah sebuah kenyataan dalam organisasi.
Beberapa contoh perilaku politik.
-Menahan informasi utama dari pengambil keputusan.
-Penyebaran desas desus
-Mencari-cari kesalahan
-Pembocoran informasi rahasia mengenai kegiatan informasi ke media masa
-Mengeluh kepada penyelia, membagun koalisi, melaksanan aturan secara berlebihan
-Perilaku politik tidak sah yg melanggar aturan yang tersirat dari aturan permainan.
-Menentang kebijakan  organisasi

Hubungan Politik  Organisasi  dan hasil individu
  1. Persepsi thd politik organisasi berhubungan secara negatif dengan kepuasan kerja.
  2. Persepsi terhadap politik  cenderung meningkatkan kecemasan dan stres kerja.
  3. Intensitas politik menyebabkan meningkatnya tingkat perputaran karyawan.
  4. Poltik menyebabkan penurunan kinerja, karena karyawan mempersepsi suasana politik tidak adil yang membuat motivasi kerja menurun.
  5. Ketika poltik dipandang sebagai ancaman, orang sering meresponnya dengan perilaku defensif-perilaku reaktif dan protektif untuk menghindari; aksi, disalahkan atau perubahan